DOGIYAI – PEMDA DOGIYAI,Id. Dalam momen bersejarah pemberkatan Gereja Paroki Santa Maria Ratu Rosari Idakebo, Rabu (7/10/2026), Bupati Dogiyai, Yudas Tebai, S.Pd., M.Si., menyampaikan pidato yang menyentuh hati ribuan umat. Ia menekankan bahwa gereja yang dibangun dengan air mata, hasil keringat menjual hasil kebun, dan gotong royong memikul batu serta pasir ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan “Infrastruktur Rohani” bagi masyarakat Dogiyai.
“Hari ini, gereja yang dibangun dengan jerih payah umat dari hasil jual ubi, pisang, hingga pikul material dari kali diserahkan sepenuhnya untuk kemuliaan Tuhan,” ujar Bupati Yudas di hadapan Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, O.S.A., dan seluruh umat.
Bupati Yudas hadir tidak hanya sebagai pejabat pemerintah, tetapi sebagai bagian integral dari umat di Dogiyai. Ia mengingatkan bahwa meskipun program pemerintah fokus pada infrastruktur fisik, konektivitas, dan SDM, harta yang paling sejati justru terletak pada kekuatan iman.
“Apa artinya jalan aspal mulus atau internet lancar jika hati kita kosong? Jika stasi dan paroki kita tidak damai? Gereja Santa Ratu Rosari ini adalah jawabannya. Jika pemerintah membangun jalan beton, gereja membangun jalan ke Surga,” tegasnya dengan nada lantang.
Menyoroti sejarah panjang kehadiran Gereja Katolik di tanah Meepago, Bupati Yudas mengakui bahwa keberadaan pemerintah saat ini adalah buah dari benih yang ditanam oleh para misionaris terdahulu yang mengajarkan baca-tulis, pertanian, dan kesehatan. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa pemerintah dan gereja tidak dapat dipisahkan.
Dalam pidatonya, Bupati Yudas menyampaikan tiga komitmen utama Pemerintah Kabupaten Dogiyai:
1. Menjaga Kerukunan Beragama: Mengaktifkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) secara nyata, bukan sekadar formalitas, agar Gereja Katolik, KINGMI, GKI, dan Masjid dapat bergandengan tangan menjaga kedamaian.
2. Dukungan Pembangunan: Terus mendukung penyelesaian dan pemeliharaan fasilitas gereja agar layak melayani umat yang semakin banyak.
3. Kebun Percontohan “Ratu Rosari”: Meminta agar halaman pastori dan gereja dijadikan lahan pertanian percontohan untuk menanam sayur, ubi, dan buah. Hasilnya akan digunakan untuk mendukung kegiatan Paroki, Orang Muda Katolik (OMK), dan kaum mama. “Biar gereja ini bukan hanya indah doanya, tapi juga subur kebunnya,” imbuhnya.
Mengingat sulitnya proses pembangunan yang melibatkan sumbangan sekecil apa pun from 4 karung semen hingga satu papan kayu Bupati Yudas mengajak seluruh umat untuk menjaga gereja ini sebagai milik bersama.
“Gereja ini bukan milik Pastor, bukan milik Panitia, dan bukan milik Bupati. Ini milik kita semua, milik umat Paroki Idakebo. Jaga kebersihannya seperti menjaga kebun sendiri, dan jaga kedamaiannya seperti menjaga kampung sendiri,” pesannya.
Acara ditutup dengan ucapan Proficiat atas pemberkatan gereja. Bupati Yudas berharap, melalui perantaraan Bunda Maria Ratu Rosari, tanah Idakebo, Kamapi, dan seluruh Dogiyai senantiasa diberkati, dijauhkan dari konflik, dan dilimpahi damai sejahtera








